Senin, 06 Mei 2013

Kopi, semangatku dan inspirasiku

Kopi, bagi setiap masyarakat merupakan minuman yang akrab di lidah. Cita rasa yang khas dari aromanya membuat setiap masyarakat selalu ingin menikmatinya di berbagai kondisi.
Bukanlah kebetulan sang Imperialist yakni pihak VOC memperkenalkan tanaman ini di Nusantara, dan turun temurun hingga sekarang rakyat Indonesia yg mampu melepaskan jerat hisapan dari Belanda terus melanjutkan menanam komoditas yang luar biasa ini. Di abad ke 17, masyarakat Eropa telah mengenal kopi dan menjadikannya seduhan istimewa nan eksotis dari Timur. Demam kopi terjadi dimana-mana di tahun tersebut, hingga para perempuan di London, Inggris, harus berkoalisi melakukan aksi protes karena para suami mereka yang lebih banyak menghabiskan waktunya di café (warung kopi). Di negeri Belanda masyarakatnya telah mengenal kopi sejak 1640 setelah para pedagang Belanda mendatangkan kopi dari Yaman.
Komoditas kopi di Nusantara pertama kali diekspor melalui pelabuhan Batavia pada 1711 dengan total ekspor 405 kilogram. Nilai ekonomis dari komoditas ini mampu memberikan pemasukan yang besar bagi kerajaan Belanda sebagai pemegang saham VOC. Sehingga, untuk menjaga komoditas ini pada 1725, VOC mengeluarkan peraturan hak monopoli perdagangan kopi hanya pada VOC semata. Tak seperti gula, komoditas lain yang di masa itu juga dikembangkan, permintaan dalam negeri atas kopi pada masa itu tidak begitu signifikan, karenanya para petani dan pekerja kopi yang rata-rata adalah pribumi tidak sanggup memberikan perlawanan pada VOC yang secara sepihak menetapkan harga atas kopi.
Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa kopi adalah seduhan yang populer sejak abad ke-16, kandungannya sudah dicintai segenap khalayak di Eropa dan terus menjamur hingga kini di Nusantara. Bagi Belanda, Indonesia memiliki iklim tropis yang berdampak pada kontur tanah dengan kualitas yang suburnya super istimewa untuk ditanami berbagai komoditas, tidak cuma kopi, ada teh, tembakau, tebu (gula), bahkan Ganja sekalipun. Kualitas inilah yang di hisap oleh Belanda untuk di bawa pulang ke negerinya untuk dinikmati dan diperdagangkan. Karakteristik tanah yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain menjadikan kopi yang di tanam di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda di tiap-tiap wilayah. Dari ujung Sumatra hingga ujung Papua tercipta kopi yang berbhinneka, Aceh Gayo, Sumatra Mandhailing, Lintong, Sidikalang, Java Ijen, Java Raung, Kintamani, Bajawa Flores, Robusta Lampung, Toraja, hingga kopi Papua yang dihasilkan petani kopi di Wamena. Seharusnya kita sebagai anak bangsa patut bangga akan kekayaan tanah kita ini.
Kopi di meja dan kretek di tangan, ragam etnis, suku, agama, dan antar golongan bertemu dan berbincang-bincang dalam satu meja di warung kopi. Dari kopi kita bisa mengenal Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Mungkin inilah sebenar-benarnya Indonesia kita. Proud to be Indonesian!