Kopi,
bagi setiap masyarakat merupakan minuman yang akrab di lidah. Cita rasa
yang khas dari aromanya membuat setiap masyarakat selalu ingin
menikmatinya di berbagai kondisi.
Bukanlah kebetulan sang Imperialist
yakni pihak VOC memperkenalkan tanaman ini di Nusantara, dan turun
temurun hingga sekarang rakyat Indonesia yg mampu melepaskan jerat
hisapan dari Belanda terus melanjutkan menanam komoditas yang luar biasa
ini. Di abad ke 17, masyarakat Eropa telah mengenal kopi dan
menjadikannya seduhan istimewa nan eksotis dari Timur. Demam kopi
terjadi dimana-mana di tahun tersebut, hingga para perempuan di London,
Inggris, harus berkoalisi melakukan aksi protes karena para suami mereka
yang lebih banyak menghabiskan waktunya di café (warung kopi). Di
negeri Belanda masyarakatnya telah mengenal kopi sejak 1640 setelah para
pedagang Belanda mendatangkan kopi dari Yaman.
Komoditas
kopi di Nusantara pertama kali diekspor melalui pelabuhan Batavia pada
1711 dengan total ekspor 405 kilogram. Nilai ekonomis dari komoditas ini
mampu memberikan pemasukan yang besar bagi kerajaan Belanda sebagai
pemegang saham VOC. Sehingga, untuk menjaga komoditas ini pada 1725, VOC
mengeluarkan peraturan hak monopoli perdagangan kopi hanya pada VOC
semata. Tak seperti gula, komoditas lain yang di masa itu juga
dikembangkan, permintaan dalam negeri atas kopi pada masa itu tidak
begitu signifikan, karenanya para petani dan pekerja kopi yang rata-rata
adalah pribumi tidak sanggup memberikan perlawanan pada VOC yang secara
sepihak menetapkan harga atas kopi.
Dari
kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa kopi adalah seduhan yang populer
sejak abad ke-16, kandungannya sudah dicintai segenap khalayak di Eropa
dan terus menjamur hingga kini di Nusantara. Bagi Belanda, Indonesia
memiliki iklim tropis yang berdampak pada kontur tanah dengan kualitas
yang suburnya super istimewa untuk ditanami berbagai komoditas, tidak
cuma kopi, ada teh, tembakau, tebu (gula), bahkan Ganja sekalipun.
Kualitas inilah yang di hisap oleh Belanda untuk di bawa pulang ke
negerinya untuk dinikmati dan diperdagangkan. Karakteristik tanah yang
berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain menjadikan kopi yang di
tanam di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda di tiap-tiap wilayah.
Dari ujung Sumatra hingga ujung Papua tercipta kopi yang berbhinneka,
Aceh Gayo, Sumatra Mandhailing, Lintong, Sidikalang, Java Ijen, Java
Raung, Kintamani, Bajawa Flores, Robusta Lampung, Toraja, hingga kopi
Papua yang dihasilkan petani kopi di Wamena. Seharusnya kita sebagai
anak bangsa patut bangga akan kekayaan tanah kita ini.
Kopi
di meja dan kretek di tangan, ragam etnis, suku, agama, dan antar
golongan bertemu dan berbincang-bincang dalam satu meja di warung kopi.
Dari kopi kita bisa mengenal Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.
Mungkin inilah sebenar-benarnya Indonesia kita. Proud to be Indonesian!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar